Dengan linangan Air Mata, Ibu berkursi roda ini ceritakan Pahitnya kehidupan

Teks Foto: Dengan linangan air mata, Latifah Ibu paru bayah ini ceritakan getirnya kehidupan yang iya jalani dengan satu orang anaknya.

BATU BARA, Ersyah.com | Kisah Latifah (48) Ibu satu anak yang merupakan cermin satu keluarga dari ribuan masyarakat Batubara yang tidak beruntung dan hidup dibawa gari kemiskinan, latifah yang mengalami sakit akut, pada persendian lututnya membuat iya tidak dapat lagi menjalankan aktivitasnya sehari dalam keadaan normal.

Sehingga dalam mengerjakan sesuatu dirumahnya ia harus dibantu dengan kursi roda, Latifah yang tinggal dilingkungan II Kelurahan Labuhan Ruku Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara

benar-benar memprihatinkan, apalagi Latifah ada warga yang jauh dari kata sejahtera.

iklan

Kehidupan ekonomi yang sangat berat, membuat suami Latifah pergi merantau keluar daerah, dan ia hanya tinggal berdua dengan anaknya yang baru duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Saat Tim Ersyah.com mengunjungi kediamannya, minggu (19/4/2020) yang berukuran 5×9 m dengan dinding rumah terbuat dari tepas yang bolong disana-sini, hanya ada lemari usang dirumahnya,  TV yang rusak, hingga bu latifa tidak mengerti dunia sekarang lagi sibuk menghadapi pendemi corona.

Saat Tim Ersyah.com mewawancarai latifah dan menanyakan prihal kehidupannya Latifah  menceritakan dengan mata berkaca-kaca, ” Beginilah kondisi ibuk, “mau kerja sudah gak bisa, untuk makan sehari-hari saja berharap ada tetangga dan warga yang memberi, terkadang ada ngasih uang, kadang pun ada yang ngasih ikan hasil tangkapan nelayan”, Cetus Latifah yang sekali-kali mengusap air matanya.

Latifah juga mengatakan bahwa suaminya saat ini bekerja di Jakarta, namun pekerjaannya tiada yang menetap (mocok-mocok), yaa paling 200rb  ngirim perbulannya, bahkan terkadang tidak sama sekali mengirimkan nafkah, cetusnya dengan tersenduh-senduh sambil meneteskan air mata.

“Tengok la nak, harta yang tinggal hanya setapak rumah ini saja, yang lain habis dijual demi mengobati kaki ibuk dulu bengkak sampai-busuk.” ceritanya lagi.

Sakit lutut akut, hingga membuat iya tidak bisa berjalan, sehingga setapak tanah dari hasil kerja ibuk dulu di Malaysia pun harus dijual untuk berobat, skening lihat penyakit dalam dan cek tiap hari kaki ibu sama bidan.

3 tahun sudah ibuk berjalan menggunakan kursi roda, sebelum ada kursi roda ini yaa pake kursi biasa la ibuk pake untuk berjalan dan bersih-bersih rumah, pun pake kursi roda bantuan dari sahabat ibuk, cetusnya lagi.

Saat ditanyakan harapannya terhadap Pemerintahan khususnya Kelurahan Labuhan Ruku, Latifah mengharapkan ada dari pihak pemkab sedikit mengulurkan bantuannya, baik itu bansos maupun bantuan sekolah untuk anaknya.

“Selama kepling ini tidak pernah menyalurkan bantuan, PKH, Bansos, Beras dari Pemerintahan apapun tak ada, jangankan mendata ibuk, melirik kondisi saya saja tak pernah, apalagi ngasih bantuan tidak pernah sama sekali, Pernah ada yang datang dari kelurahan, itupun cuma minta tagihan pajak tanah (PBB).” kesalnya.

Ia bercerita sambil meneteskan air mata jikalah bisa kaki berjalan, “ia ingin bekerja demi menyekolahkan anaknya. Selagi bisa dilerjakan dan halal saya akan kerja, jika kaki saya sehat. Tuturnya.

Salah seorang tetangga Rusmi (47) membenarkan bahwa Kepala Lingkungan II pilah-pilah dalam menyalurkan bantuan, bahkan pada saat mendata pun Kepling senyap-senyap dan membisikkan “jangan kasih tahu orang lain yaa” cetusnya kepada ersyah.com.(m.02)

 

 

iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *