Golkar Sumut Tuding Opini Riza Upaya Merusak Konsolidasi Partai

Ir Alpan Alpis, Pengurus Golkar Deli Serdang yang juga Sekretaris DPC Ormas MKGR.(Foto. Istimewa)

MEDAN.Ersyah.com l Opini Riza Fakhrumi Tahir soal “nasib Hendri Sitorus makin tak jelas” menuai kritik keras dari internal Partai Golkar Sumatera Utara.

Tulisan itu dinilai bukan analisis objektif, melainkan upaya menggiring kegaduhan politik di tengah konsolidasi menjelang Musda Golkar Sumut.

Kritik tajam datang dari Ir. Alpan Alpis, Pengurus Partai Golkar Deli Serdang sekaligus Sekretaris DPC Ormas MKGR Deli Serdang. Ia menegaskan, narasi yang dibangun Riza sarat emosi, miskin dasar organisasi, dan jauh dari mekanisme resmi partai.

“Kalau peluang politik di Musda sudah tidak ada, sebagian orang memilih ribut lewat opini. Ini pola lama,” tegas Alpan, Kamis (8/1/2025).

Alpan menilai, publik juga paham bahwa Riza selama ini berada di orbit politik Musa Rajekshah (Ijeck). Karena itu, opini bernada pesimistis tersebut dinilai berkepentingan mempertahankan pengaruh lama yang kini mulai tergerus oleh arus regenerasi di tubuh Golkar Sumut.

“Musda itu forum resmi, bukan panggung loyalitas masa lalu. Yang menentukan adalah mekanisme dan keputusan kolektif, bukan cerita horor politik,” sindirnya.

Ia menegaskan, hingga kini tidak ada satu pun keputusan resmi partai yang menyatakan masa depan politik Hendri Yanto Sitorus berakhir atau “tak jelas”.
Karena itu, istilah “nasib makin tak jelas” disebutnya sebagai cacat berpikir politik.

“Golkar bukan panggung mistis. Di sini tidak ada ‘nasib’, yang ada aturan. Kalau aturan tidak berpihak, jangan diganti dengan ramalan,” tegas Alpan.

Kritik juga diarahkan pada penggunaan istilah seperti “boneka” dan “oligarki” dalam tulisan Riza.

Menurut Alpan, diksi semacam itu lebih dekat pada provokasi ketimbang analisis berbasis fakta.

“Semakin keras istilahnya, semakin terlihat kosong argumennya. Ini agitasi, bukan kajian politik,” ujarnya.

Alpan pun mengingatkan tanggung jawab moral seorang senior dalam politik.

“Sudahlah, Om Riza. Di usia senja, seharusnya menebar keteduhan, bukan menanam ketakutan. Senior itu mestinya memberi arah, bukan menghantui generasi berikutnya,” katanya tajam.

Menurut Alpan, regenerasi Golkar tidak pernah ditentukan oleh opini pesimistis atau loyalitas masa lalu, tetapi oleh kerja nyata dan kepatuhan pada mekanisme partai.

“Musda bukan audisi opini. Yang lolos bukan yang paling ribut, tapi yang paling siap secara mekanisme. Kalau peluang maju tak ada, membuat gaduh lewat narasi bukanlah jalan terhormat.”tutupnya.(F.Sinaga)

iklan