
BATUBARA l Ersyah.com l Di tengah arus modernisasi yang kian deras, jejak sejarah kerap terpinggirkan. Namun di Kecamatan Nibung Hangus, sebuah langkah berbasis kebudayaan mulai digaungkan.
Bupati Batubara, Baharuddin Siagian, memilih menapaki sejarah dengan mengunjungi Istana Niat Lima Laras, Rabu (25/3/2026).
Kunjungan itu bukan sekedar agenda seremonial, melainkan simbol pertemuan antara kekuasaan, identitas, dan warisan budaya yang hampir terlupakan.
Didampingi oleh tokoh-tokoh yang memiliki jejaring politik nasional seperti Amar Ma’ruf dan Juna Indra Sumawan, kehadiran mereka membawa pesan pelestarian budaya masuk dalam panggung strategi pembangunan daerah.
Rombongan disambut Jimin, pewaris Kedatukan Istana Niat Lima Laras, yang mengisahkan kejayaan masa lalu istana tersebut, sebuah pusat kekuasaan tradisional yang pernah menjadi simbol kedaulatan lokal.
Di titik ini, sejarah tidak lagi hanya cerita, melainkan aset identitas yang bernilai tinggi.
Baharuddin menyampaikan, revitalisasi istana bukan hanya soal memperbaiki bangunan tua, tetapi juga menghidupkan kembali marwah budaya Melayu di Batubara.
“Ini bukan sekadar renovasi fisik, tetapi upaya mengembalikan jati diri daerah,”katanya.
Menurut Baharuddin, langkah itu selaras dengan arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia yang menempatkan pelestarian sejarah sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa.
Menariknya, Baharuddin juga mengangkat fakta yang menggugah kesadaran publik, di Sumatera Utara, hanya tersisa dua istana bersejarah yang masih berdiri, Istana Maimun dan Istana Niat Lima Laras di Kabupaten Batubara. Fakta ini bukan hanya statistik, tetapi alarm budaya.
Baharuddin secara terbuka mengirim sinyal kepada pemerintah pusat dan legislatif, bahwa pelestarian sejarah membutuhkan keberpihakan nyata, bukan sekadar retorika.
“Kami berharap ada perhatian serius. Jika tidak segera ditangani, istana ini bisa hilang dan bersama itu, hilang pula sebagian identitas kita,”tutupnya.(red01)









