
MEDAN l Ersyah.com l Berada di ketinggian 324 meter di atas permukaan laut, berdiri sebuah desa yang seolah membekukan waktu. Desa ada Bawomataluo bukan hanya, permukiman biasa, tapi peradaban masa lalu dan panggung hidup tempat tradisi, sejarah serta keberanian berpadu dalam harmoni yang memikat dunia.
Kini, desa yang memesona itu menuju panggung global, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) resmi mendorong Bawomataluo menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO, sebuah pengakuan bergengsi bagi warisan budaya umat manusia.
Begitu memasuki desa, pengunjung akan disambut deretan rumah adat megah Omo Sebua yang berdiri kokoh selama lebih dari 200 tahun.
Dibangun tanpa paku, rumah-rumah ini bukan hanya indah secara arsitektur, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang kekuatan, status sosial, dan kebersamaan.
Namun, daya tarik sesungguhnya terletak pada adrenalin yang berdenyut di tengah desa, tradisi Fahombo. Para pemuda dengan gagah melompati batu setinggi lebih dari dua meter, sebuah ritual kedewasaan yang menjelma menjadi ikon budaya mendunia. Setiap lompatan bukan hanya aksi fisik, tetapi simbol keberanian, kehormatan, dan identitas.
“Proses menuju UNESCO sedang berjalan. Kami sudah melakukan sosialisasi dan segera menyusun dokumen penilaian awal,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, saat temu pers, Rabu (1/4/2026) di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut.
Yuda menyebut, langkah diambil menjadi tahapan krusial setelah Bawomataluo lebih dulu masuk daftar tentatif sejak 2009.
Geliat pelestarian budaya juga terlihat di berbagai penjuru Sumatera Utara.
“Ikon seperti Istana Maimun hingga Masjid Azizi telah mendapat status cagar budaya nasional, memperkuat posisi daerah ini sebagai salah satu pusat warisan sejarah Indonesia,”katanya.
Dijelaskan, hampir 900 cagar budaya tersebar di kabupaten/kota, Sumatera Utara tengah membangun narasi besar untuk menjaga warisan peradaban masa lalu demi masa depan.
“Saat ini di antara semua itu, Bawomataluo berdiri paling menonjol, sebuah desa di atas awan, tempat tradisi tak hanya dikenang, tetapi terus hidup dan menantang zaman,”tutupnya.(MY/red01)









