
MEDAN l Ersyah.com l Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Bobby Afif Nasution menegaskan, sinkronisasi peran perempuan di rumah tangga dan ruang publik itu penting. Sekarang masih ada “jarak” yang membuat kedua peran tersebut belum berjalan seimbang.
“Komposisi perempuan di DPRD masih kecil, bahkan di beberapa kabupaten/kota belum ada keterwakilan sama sekali,”kata Gubernur Bobby saat membuka peringatan Hari Kartini melalui seminar “Saatnya Perempuan Bicara”, Jumat (24/4/2026) di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan.
Hadir dalam kegiatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, bersama sejumlah pejabat daerah, anggota DPR RI, perwakilan Bank Indonesia, dan komunitas perempuan.
Bobby menyoroti rendahnya keterwakilan perempuan dalam jabatan publik, khususnya pada posisi pengambil keputusan.
Ia mengungkapkan masih ada daerah di Sumut tanpa satu pun anggota legislatif perempuan.
“Dari 33 kabupaten/kota di Sumut, baru satu daerah yang dipimpin kepala daerah perempuan, yakni Kabupaten Labuhanbatu,”ujarnya.
Menurut Bobby kondisi ini, menunjukkan masih terbatasnya ruang perempuan dalam kepemimpinan.
Dari total 15,7 juta penduduk Sumut, sekitar 7,8 juta adalah perempuan, dan 5,8 juta di antaranya berada pada usia produktif. Potensi ini belum sepenuhnya terakomodasi dalam pembangunan dan kepemimpinan daerah.
“Perempuan tidak perlu dibatasi. Mereka bisa berperan di rumah tangga sekaligus aktif di ruang publik,”ucap Bobby.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengungkapkan, sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, dengan total korban mencapai 37.372 orang.
Lebih dari 30 ribu korban merupakan perempuan.
Menurutnya, kenaikan angka tersebut bukan semata-mata menunjukkan peningkatan kasus, tetapi juga meningkatnya keberanian korban untuk melapor.
“Ini sinyal bahwa kesadaran untuk berbicara mulai tumbuh, tetapi tetap harus menjadi perhatian serius,”pesannya.
Ia menegaskan, pemerintah perlu memperkuat upaya pencegahan, termasuk melalui edukasi dan forum publik seperti seminar.
“Pencegahan harus dimulai dari keluarga dan masyarakat. Kesadaran ini penting agar kekerasan terhadap perempuan bisa ditekan,”tegasnya.(MY/red01)









