DAERAH  

Mahasiswa dan Warga Kepung Kantor Desa Lubuk Cuik, Tuntut Audit BUMDes

Mahasiswa dan warga saat mendatangi kantor balai desa lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir.(Foto. Group SMSI)

BATUBARA l Ersyah.com l Gerakan Mahasiswa bersama Rakyat Batubara (Gembara) bersama ratusan warga Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara menggelar aksi berlangsung tegang dan nyaris ricuh.

Aksi dipimpin Koordinator Gembara M. Salim bersama Koordinator Lapangan Wan Indris, digelar di depan Kantor Desa Lubuk Cuik dengan membawa sejumlah tuntutan terkait pengelolaan BUMDes, aset desa, hingga polemik internal Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Senin (18/5/2026).

Dalam orasi, massa mempertanyakan dugaan tunggakan BUMDes kepada penyedia pupuk dan pestisida sebesar Rp42.668.000 pada tahun 2025. Mereka menilai pengelolaan hutang tersebut tidak transparan dan diduga dilakukan tanpa musyawarah menyeluruh dengan masyarakat maupun pengurus.

“Kami meminta audit dan penjelasan terbuka terkait penggunaan, pengelolaan, serta pertanggungjawaban hutang BUMDes,”teriak massa.

Tak hanya soal hutang, massa juga menyoroti keberadaan aset desa berupa sound system karaoke yang disebut berada di rumah seorang pengusaha pupuk bernama Alberto.

Warga meminta pemerintah desa menjelaskan dasar penempatan aset tersebut kepada pihak ketiga serta mempertanyakan legalitas administrasinya.

Keberadaan ambulans desa yang terparkir di halaman rumah Alberto Sitinjak juga memicu pertanyaan warga. Massa menilai kendaraan pelayanan masyarakat itu seharusnya berada di kantor desa, bukan di rumah pribadi.

Gembara turut menyinggung kisruh internal KDMP Desa Lubuk Cuik. Mereka menyoroti pengunduran diri Ketua KDMP sebelumnya, Welas Hari, yang disebut mengalami tekanan akibat persoalan internal koperasi.

Menurut Salim, dalam rapat koperasi sempat muncul permintaan agar ketua menyerahkan sertifikat pribadi sebagai jaminan modal koperasi. Ia menduga ada penyimpangan tujuan koperasi dan kepentingan kelompok tertentu dalam pengelolaannya.

Massa juga menilai Penjabat (Pj) Kepala Desa Lubuk Cuik, MY Daulay, tidak maksimal menjalankan fungsi pembinaan dan penyelesaian konflik di desa.

Karena itu, mereka mendesak aparat penegak hukum dan Inspektorat turun melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan aset desa, BUMDes, dan KDMP.

Situasi sempat memanas ketika sejumlah ibu-ibu mempertanyakan keterlibatan mahasiswa dalam persoalan desa. Adu mulut nyaris memicu kericuhan sebelum akhirnya personil Polsek Lima Puluh meredam ketegangan.

Menanggapi tuntutan massa, Pj Kades Lubuk Cuik MY Daulay menjelaskan bahwa sound system yang berada di rumah Alberto dijadikan jaminan atas hutang pupuk dan pestisida BUMDes kepada penyalur pupuk.

Sementara ambulans desa ditempatkan di lokasi tersebut karena difungsikan sebagai kantor KDMP. Namun, operasional ambulans masih menunggu arahan dari Bidang Aset BKAD Kabupaten Batubara.

Ketua BUMDes Lubuk Cuik, Iswahyudi, mengungkapkan dana desa dan hutang pupuk digunakan untuk pengelolaan tanaman cabai merah seluas 20 rante. Namun tanaman gagal panen akibat banjir sehingga hasil penjualan hanya sekitar Rp5 juta dan digunakan untuk mencicil hutang pupuk serta pestisida.

Meski demikian, Iswahyudi menyebut bendahara BUMDes lebih mengetahui kondisi keuangan secara rinci. Namun hingga aksi berakhir, bendahara tersebut tidak hadir memenuhi tuntutan warga.

Setelah difasilitasi tokoh masyarakat, pihak desa, pengurus BUMDes, dan KDMP akhirnya sepakat menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu paling lambat satu minggu.

Warga menegaskan, jika tidak ada penyelesaian konkret, kasus tersebut akan dibawa ke ranah hukum.(mn/red01)