Ekonomi Sumut Tumbuh 4,98 Persen di Tengah Gejolak Global

Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Asim Saputra didampingi Kepala Biro Perekonomian Sekdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung saat memaparkan situasi ekonomi Sumatera Utara.(Foto. Diskominfo Sumut)

MEDAN l Ersyah.com l Perekonomian Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tetap positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sebab pada triwulan I 2026, ekonomi Sumut tumbuh 4,98 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Asim Saputra, mengatakan capaian ketahanan ekonomi daerah baik, meski dunia masih dibayangi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.

“Ekonomi Sumut tetap resilien di tengah situasi global saat ini,”kata Asim dalam jumpa pers,Selasa (9/6/2027) di Kantor Gubernur Sumut.

Dijelaskan, struktur ekonomi Sumut yang ditopang sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu faktor utama penopang pertumbuhan.

Selain itu, ekspor Sumut ke Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama komoditas minyak dan lemak nabati seperti crude palm oil (CPO), masih memberikan kontribusi signifikan.

Meski konflik global berdampak pada perdagangan internasional, kenaikan harga CPO di pasar dunia serta pelemahan rupiah justru memberi keuntungan bagi eksportir Sumut.

“Pertumbuhan ekonomi kita masih cukup baik dan tetap resilien,”ujarnya.

Asim juga mengungkapkan lebih dari 51 persen pertumbuhan ekonomi Sumut ditopang konsumsi rumah tangga.

Hal itu menunjukkan daya beli masyarakat masih kuat. Karena itu, masyarakat diimbau terus mendukung produk UMKM untuk memperkuat ekonomi daerah.

Selain ditopang konsumsi, geliat ekonomi Sumut juga terlihat dari banyaknya agenda nasional dan internasional yang digelar sepanjang tahun ini, seperti Piala AFF U-19 2026, MTQ, Trail of The King by UTM 2026, serta Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).

“Banyaknya tamu yang datang membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi masyarakat,”ucapnya.

Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung menyebut, inflasi Sumut pada Mei 2026 mencapai 4,35 persen (yoy), meningkat dibanding periode sebelumnya sebesar 2,92 persen.

Komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain emas perhiasan (0,57 persen), tomat (0,29 persen), beras (0,24 persen), cabai merah (0,18 persen), dan ikan dencis (0,16 persen).

Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen.

Untuk menjaga stabilitas harga, Pemprov Sumut terus menjalankan strategi pengendalian inflasi melalui program 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

“Kami juga telah melakukan kerja sama antar daerah untuk komoditas cabai merah dengan Kabupaten Karo, dan tidak menutup kemungkinan diperluas ke komoditas lainnya,”ungkap Poppy.(MY/red01)