Dari Balik Jeruji Lapas Labuhan Ruku, 29 Warga Binaan Kejar Pendidikan

Warga Binaan Lapas kelas IIA Labuhan Ruku saat mengikuti ujian pendidikan kesetaraan.(Foto. Humas lapas LR)

BATUBARA l Ersyah.com l Jeruji besi bukan akhir dari perjalanan hidup seseorang.

Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Labuhan Ruku, Kabupaten Batubara, pendidikan justru menjadi pintu harapan bagi warga binaan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Hal itu diwujudkan melalui pelaksanaan hari kedua Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Program Paket A, B, dan C yang berlangsung, Kamis (11/6/2026).

Sebanyak 29 warga binaan mengikuti ujian pendidikan kesetaraan yang diselenggarakan PKBM Amanah Al Washliyah Indrapura sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan pemasyarakatan.

Peserta terdiri dari 4 warga binaan Paket A, 7 warga binaan Paket B, serta 18 warga binaan Paket C yang meliputi 12 pria dan 6 wanita.

Bagi mereka, ujian bukan hanya mengisi lembar jawaban, melainkan langkah nyata untuk merebut kembali kesempatan yang mungkin pernah terhenti.

Humas Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Rizky Lubis mengatakan, pendidikan merupakan salah satu instrumen paling efektif dalam proses pembinaan warga binaan.

“Pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang lebih siap, lebih berpengetahuan, dan memiliki daya saing ketika kembali ke masyarakat. Pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk itu,”ujarnya.

Pelaksanaan ujian mendapat pengawasan langsung dari perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Batubara melalui kegiatan monitoring dan evaluasi.

Kehadiran tim pengawas bertujuan memastikan pelaksanaan ujian berjalan sesuai standar pendidikan kesetaraan nasional, sekaligus menjamin hak pendidikan warga binaan terpenuhi secara optimal.

Pada hari kedua ujian, peserta Paket A mengerjakan mata pelajaran Seni Budaya, Pendidikan Agama Islam, dan Bahasa Indonesia.

Peserta Paket B mengikuti ujian Bahasa Indonesia, Prakarya, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bahasa Inggris, serta Pendidikan Kewarganegaraan.

Sementara peserta Paket C menjalani ujian Geografi, Sosiologi, Kewirausahaan, Sejarah, Seni Budaya, dan Pendidikan Jasmani.

Di tengah stigma yang masih melekat terhadap mantan narapidana, program pendidikan kesetaraan di dalam lapas menjadi bukti bahwa negara hadir memberikan kesempatan kedua.

Pendidikan tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri, karakter, serta kesiapan mental untuk kembali hidup produktif di tengah masyarakat.

“Pendidikan masuk ke dalam lapas, harapan pun ikut tumbuh. Sebab membangun manusia adalah cara terbaik mencegah mereka kembali pada kesalahan yang sama.”ucap Rizky.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan ujian. Seluruh warga binaan mengikuti kegiatan dengan penuh kesungguhan.

Pendidikan di Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku lebih dari program pembinaan sehingga menjadi simbol perubahan selalu mungkin terjadi.

Dari balik tembok pemasyarakatan, lahir semangat membangun SDM berdaya saing, dan siap mengambil peran positif setelah masa pembinaan berakhir.(mn)