Inalum Kantongi Investment Grade, Siap Ekspansi Aluminium Hingga 2030

PT Inalum meraih predikat BBB dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings.(Foto. Istimewa)

JAKARTA l Ersyah.com l PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum mendapat suntikan kredibilitas di pasar keuangan global.

PT Inalum meraih peringkat kredit BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings, sekaligus menempatkan perusahaan pada level investment grade internasional.

Rating tersebut bukan hanya pengakuan atas kesehatan keuangan Inalum. Namun, predikat dari S&P datang ketika perusahaan bersiap memasuki fase ekspansi besar-besaran untuk menggenjot hilirisasi aluminium dan memperbesar kapasitas produksi dalam periode 2026–2029.

Dalam laporan yang diterbitkan 7 September 2026, S&P menilai posisi strategis Inalum di dalam Grup MIND ID serta kuatnya dukungan pemerintah melalui induk usaha menjadi faktor yang menopang profil kredit perusahaan.

S&P juga melihat Inalum sebagai salah satu motor utama hilirisasi bauksit dan pembangunan rantai nilai aluminium nasional.

Keterikatan strategis dan finansial dengan MIND ID dinilai memperkuat kemampuan Inalum dalam menjalankan ekspansi dan investasi.

Investment grade ini datang tepat ketika kebutuhan pendanaan Inalum berpotensi melonjak. Perusahaan tengah menyiapkan sejumlah proyek besar yang ditargetkan mengubah skala bisnis aluminium nasional hingga akhir dekade.

Sokongan dari induk usaha yang membuat profil kredit Inalum menguat. S&P juga melihat struktur biaya produksi perusahaan yang kompetitif.

Pada 2026, Inalum mampu beroperasi di kuartil pertama kurva biaya global, atau berada di kelompok produsen dengan biaya operasional relatif rendah dibandingkan industri secara global.

Keunggulan tersebut ditopang pasokan energi hidro yang stabil serta integrasi bahan baku domestik. Struktur biaya yang kompetitif menjadi bantalan penting ketika harga aluminium global bergerak volatil.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air juga memberikan keuntungan ganda. Selain menekan emisi karbon, sumber energi tersebut membantu menjaga efisiensi biaya produksi dan profitabilitas smelter Inalum.

Saat ini, Inalum mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun.

Di sisi bahan baku, ketergantungan terhadap impor alumina mulai ditekan melalui kepemilikan mayoritas Inalum di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Perusahaan tersebut mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.

Saat ini, Inalum tengah mengembangkan SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional.

Kedua proyek ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok aluminium nasional yang lebih terintegrasi, mulai dari bahan baku hingga produk aluminium primer.

SGAR 2 dirancang menambah kapasitas produksi alumina sekitar 1 juta ton per tahun. Jika terealisasi, kapasitas alumina Inalum melalui fasilitas yang terintegrasi akan meningkat menjadi sekitar dua kali lipat dibandingkan kapasitas yang tersedia saat ini.

Sementara itu, Smelter 2 ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 600 ribu ton aluminium per tahun.

Jika proyek berjalan sesuai rencana, kapasitas produksi aluminium primer Inalum akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dari posisi saat ini.

Ekspansi tersebut berpotensi mengubah skala pendapatan dan kapasitas bisnis Inalum secara signifikan hingga 2030.

Inalum tidak hanya membutuhkan kredibilitas untuk menjaga biaya pendanaan, tetapi juga membutuhkan akses terhadap pasar keuangan ketika proyek-proyek jumbo tersebut memasuki fase investasi.

Pada Agustus 2026, PEFINDO menaikkan peringkat Inalum satu tingkat dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable.

Sebelumnya, Inalum mampu mempertahankan peringkat idAA-/Stable selama tiga tahun.

Dalam waktu berdekatan Inalum mendapatkan pengakuan dari dua lembaga pemeringkat internasional dan domestik ketika perusahaan sedang menyiapkan ekspansi besar.

Kondisi industri juga memberikan angin segar. S&P memperkirakan harga aluminium tetap suportif dalam satu hingga dua tahun ke depan di tengah ketatnya pasokan global.

Stabilnya volume penjualan dari smelter eksisting juga diperkirakan menopang pertumbuhan EBITDA Inalum.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, mengatakan status investment grade menjadi pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi perusahaan untuk menjaga fundamental bisnis di tengah agenda ekspansi.

Menurutnya, pertumbuhan Inalum tidak boleh hanya mengejar skala, tetapi harus ditopang kekuatan operasional, disiplin finansial dan tata kelola.

“Investment grade merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab Inalum untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan. Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami memastikan pertumbuhan tidak hanya mengejar skala tetapi tetap dibangun di atas fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, dan tata kelola yang baik dan kuat,”kata Melati, Senin (14/9/2026) diterima Wartawan.

Ia menegaskan, dukungan MIND ID diarahkan untuk memperkuat rantai nilai aluminium nasional dari hulu hingga hilir.

Rating tersebut mendorong pertumbuhan perusahaan bersih, kapasitas produksi yang melonjak, serta rantai aluminium nasional yang benar-benar lebih mandiri.

“Pengembangan SGAR 2 dan Smelter 2 tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas tetapi juga untuk memperkuat kemandirian bahan baku, daya saing industri aluminium nasional serta menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia,”ucapnya.(red01)