Batu Bara, Bauksit, dan Mimpi Besar Aluminium Indonesia

Pabrik peleburan aluminium, di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara.(Foto. Istimewa)

Peleburan di Kuala Tanjung adalah satu-satunya produsen aluminium primer nasional. Di antara bauksit Kalimantan dan pabrik di pesisir Sumatera Utara, hilirisasi aluminium Indonesia sedang diuji.

Di pesisir Kabupaten Batu Bara, tepatnya di Kuala Tanjung, berdiri pabrik peleburan aluminium milik PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Dari sini logam ringan itu keluar dalam bentuk batangan untuk memasok berbagai industri. Pabrik ini menjadi titik penting dalam cerita hilirisasi nasional, karena Inalum di Kuala Tanjung merupakan satu-satunya produsen aluminium nasional.

Padahal kebutuhan negeri ini jauh lebih besar daripada yang bisa dihasilkan satu pabrik. Panjangnya jalan hilirisasi aluminium terlihat justru dari selisih itu.

Kapasitas produksi Inalum baru mencapai 275.000 ton per tahun, sementara kebutuhan aluminium nasional disebut mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun. Akibatnya, pasar domestik hanya menyerap 46 persen produk Inalum, dan 54 persen kebutuhan aluminium primer masih dipenuhi lewat impor.

Selisih itu menjelaskan mengapa hilirisasi aluminium bukan sekadar soal membangun pabrik. Ia menyangkut kemampuan negara menyediakan sendiri bahan baku sebuah industri yang terus berkembang.

Aluminium tidak lahir langsung dari tambang. Bijih bauksit lebih dulu diolah menjadi alumina, lalu alumina dilebur menjadi aluminium. Bagi Inalum, mata rantai alumina menjadi kunci. Anak usaha hasil kolaborasi dengan Antam, PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), mengoperasikan fasilitas pemurnian di Mempawah, Kalimantan Barat. Fase pertama proyek ini berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Hasilnya sudah mengalir ke Sumatera Utara. Sejak 2025, Inalum mulai memakai alumina dari fasilitas Mempawah itu untuk produksi aluminium di Kuala Tanjung. Bahan baku dari Kalimantan Barat kini diolah di Batu Bara. Itu satu bentuk konkret dari rantai nilai yang mulai tersambung dalam negeri.

Pasokan bauksit di hulu juga dipersiapkan. Pengembangan kapasitas ini diproyeksikan memanfaatkan cadangan bauksit dari izin usaha pertambangan milik grup Antam yang diperkirakan sekitar 180 juta ton.

Inalum memasang target besar. Perusahaan menargetkan kapasitas aluminium naik dari 275.000 ton per tahun menjadi 900.000 ton pada 2029. Dalam pernyataan lain, target itu disebut mencapai 1 juta ton per tahun pada 2030. Perbedaan angka dan tahun ini menunjukkan rencananya masih bergerak, dan perkembangan terbarunya patut terus dipantau.

Lompatan itu bertumpu pada dua langkah. Pertama, pembangunan smelter baru di Mempawah. Proyek ini berkapasitas 600.000 ton aluminium per tahun dan ditargetkan beroperasi pada 2029. Kedua, perluasan di Kuala Tanjung sendiri. Inalum menyiapkan potline keempat dan peningkatan kapasitas potline yang ada, dengan produksi penuh mencapai 520.000 ton pada 2031.

Smelter aluminium sangat bergantung pada listrik. Inalum menyebut ketersediaan listrik sebagai faktor penentu keberhasilan agenda hilirisasi aluminium nasional. Angkanya besar: kebutuhan pasokan untuk smelter baru dan ekspansi Kuala Tanjung mencapai 1,6 gigawatt. Khusus Kuala Tanjung, kebutuhan listrik tambahan melonjak dari 209 megawatt pada 2029 menjadi 406 megawatt pada 2031.

Besarnya angka ini menunjukkan bahwa hilirisasi aluminium berjalan seiring dengan pembangunan energi. Pabrik secanggih apa pun tidak berarti tanpa listrik yang stabil.

Alasan di balik ambisi ini ada di luar pabrik. Aluminium dipakai dalam teknologi yang tumbuh cepat. Menurut Direktur Utama MIND ID, material aluminium mencakup sekitar 18 persen dari satu battery pack, dan satu panel surya berkapasitas 1 megawatt membutuhkan sekitar 21 ton aluminium. Karena itu aluminium berkaitan dengan agenda kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Membangun rantai aluminium dari hulu ke hilir membutuhkan investasi besar. MIND ID memperhitungkan kebutuhan investasi sekitar 1 miliar dolar AS per juta ton kapasitas alumina dan 2,5 miliar dolar AS per juta ton kapasitas aluminium. Angka ini menjelaskan mengapa jalan hilirisasi terasa panjang. Prosesnya berjalan bertahap, dari alumina, peleburan, perluasan kapasitas, sampai pasokan energinya.

Dari Kuala Tanjung, gambaran hilirisasi aluminium Indonesia cukup jelas. Rantai dari bauksit ke alumina dan dari alumina ke aluminium sudah mulai tersambung. Rencana perluasannya besar. Namun selisih antara produksi dan kebutuhan nasional masih lebar, dan sebagian besar target baru berlaku beberapa tahun ke depan.

Bagi Batu Bara, tempat peleburan ini berdiri, ujian berikutnya adalah apakah rencana itu terwujud sesuai jadwal. Hilirisasi sejati tidak berhenti pada batangan aluminium yang keluar dari pabrik. Ia selesai ketika nilai tambah tumbuh di dalam negeri, dan aluminium buatan Indonesia dipakai oleh industri Indonesia sendiri.***

Penulis : Mazlan