
BATUBARA l Ersyah.com l PT Indonesia Asahan Aluminium memperluas jangkauan bisnis ke Amerika Latin dan Karibia.
Hal ini bagian dari upaya memperkuat hilirisasi aluminium Indonesia, membuka peluang investasi lintas negara, serta memperbesar penetrasi industri nasional di pasar global.
Melalui forum INALAC Energy and Mining Business di Santiago, Cile, Inalum membawa potensi industri pertambangan dan energi Indonesia ke panggung internasional.
Kegiatan bukan hanya memperluas jejaring, partisipasi ini menjadi ruang penjajakan kemitraan strategis di tengah meningkatnya kebutuhan kolaborasi investasi, teknologi, dan pengembangan industri berkelanjutan.
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, membuka forum tersebut.
Ia melihat perkembangan hilirisasi dan penguatan industri nasional sebagai peluang untuk memperluas hubungan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Amerika Latin dan Karibia.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, hadir mewakili MIND ID sebagai panelis dalam Mining and Energy Forum.
Dalam forum itu, ia membahas perkembangan sektor pertambangan dan energi Indonesia serta peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama mitra di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Mengusung tema “Indonesia–Latin America and the Caribbean Green Energy Partnership, Moving Towards Investment, Technology and Industrial Collaboration”, forum tersebut menitikberatkan pada peluang investasi, pengembangan teknologi, dan kolaborasi industri untuk mendukung transisi energi hijau.
“Inalum siap membangun kemitraan di sejumlah bidang strategis, mulai dari pengembangan teknologi dan dukungan pembiayaan hingga penyerapan produk industri,”kata Melati Sarnita, Rabu (21/10/2026) diterima wartawan.
Dijelaskan, peluang ruang bagi Inalum untuk menjajaki kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga penguatan rantai industri. Namun, realisasi manfaatnya bergantung pada tindak lanjut penjajakan, kesepakatan bisnis, dan konkretisasi investasi dengan calon mitra.
“Bagi industri aluminium nasional, perluasan jejaring ke Amerika Latin dan Karibia menjadi langkah untuk membuka akses terhadap pasar baru sekaligus memperbesar peluang kolaborasi dengan pelaku industri internasional,”ujarnya.
Ekspansi jejaring bisnis Inalum sejalan dengan agenda hilirisasi industri nasional yang menempatkan peningkatan nilai tambah sebagai salah satu prioritas. Tantangannya bukan hanya memperkuat kapasitas produksi, tetapi juga memperluas pasar, meningkatkan daya saing, dan membangun kemitraan yang memberikan manfaat ekonomi nyata.
Di tengah persaingan industri global, pengembangan teknologi, akses pembiayaan, dan keberlanjutan energi menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi industri aluminium.
Karena itu, peluang kolaborasi internasional perlu diarahkan pada penguatan rantai nilai industri, bukan berhenti pada pertukaran gagasan dalam forum bisnis.
Inalum mendapatkan ruang untuk memperkenalkan potensi industri Indonesia sekaligus menjajaki peluang kerja sama dengan mitra di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
“Keberhasilan langkah ini akan terlihat dari tindak lanjut konkret dengan meningkatnya nilai tambah produk aluminium Indonesia,”tutupnya.(red01)









