Wamen BUMN Kunjungi SGAR Alumina di Mempawah

Foto:Wamen Kartiko Wirjoatmodjo, menagement PT Borneo Alumina Indonesia, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID Dilo Seno Widagdo dan Direktur Utama PT Inalum Danny Praditya, Direktur Pengembangan Usaha Inalum Melati Sarnita dan Direktur Utama BAI Leonard Manurung diabadikan bersama.(foto. Humas Inalum)

KALBAR.Ersyah.com l Wakil Menteri (Wamen) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia Kartiko Wirjoatmodjo mengunjungi kawasan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (27/9/23).

Kunjungan Wamen disambut menagement PT Borneo Alumina Indonesia, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID Dilo Seno Widagdo dan Direktur Utama PT Inalum Danny Praditya, Direktur Pengembangan Usaha Inalum Melati Sarnita dan Direktur Utama BAI Leonard Manurung.

Kedatangan Wamen tersebut merupakan langkah Kementerian BUMN mendukung pelaksanaan proyek strategis nasional dalam memenuhi kebutuhan alumina di Indonesia,

Dalam kesempatan itu, Wamen Kartiko meninjau progress dari pembangunan Smelter yang sudah dimulai proses pembangunannya sejak 2019 lalu.

Humas PT Inalum Gilang Sukma, Kamis (28/9/23) dalam kunjungan  tersebut terlihat progress pembangunan SGAR Mempawah sudah mencapai 68%, yang targetnya selesai tahun 2024. Proyek SGAR tersebut juga akan menghubungkan rantai pasokan antara mineral bijih bauksit (Kalimantan Barat) dengan pabrik peleburan aluminium (Inalum). Jika sudah beroperasi, diperhitungkan bisa memproduksi 1 juta ton alumina per tahun (bahan baku 3.3 juta ton bauksit per tahun). Target akan mulai berproduksi tahun 2024 dan mencapai full kapasitas produksi pada 2025.

Selain itu, Smelter Grade Alumina Refinery yang berada di Mempawah merupakan projek strategis yang dijalankan secara kolaborasi Inalum dan Antam melalui anak usaha INALUM yaitu PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

SGAR Mempawah merupakan bagian dari aksi korporasi Inalum dalam menciptakan ekosistem industri aluminum yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Inalum berharap terus mendapatkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, sehingga cita-cita Indonesia bisa segera tercapai dan hilirisasi aluminium nasional cepat terwujud.

Beberapa aksi korporasi yang dilakukan Inalum untuk peningkatan kapasitas produksi sebagai respon tingginya potensi pasar aluminium nasional yang memiliki permintaan hingga 1 juta ton.

Proyek-proyek itu diantaranya, Proyek Upgrading Teknologi Tungku Reduksi yang akan selesai pada tahun 2023, Optimalisasi Smelter Kuala Tanjung yang ditargetkan akan meningkatkan kapasitas produksi di tahun 2024-2025 dan Proyek Diversifikasi Aluminium Remelt IAA.(red01/Mz)

Tinggalkan Balasan