
MEDAN l Ersyah.com l Perayaan Hari Jadi ke-78 Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bukan hanya panggung selebrasi. Di balik angka-angka capaian yang dipaparkan, terselip pesan bahwa Sumut belum selesai, bahkan masih menghadapi ujian serius.
Sebab tanpa kolaborasi, Sumatera Utara tidak akan ke mana-mana.
“Saya berbicara ini, karena potensi kita besar. Tapi tanpa kerja bersama, itu tidak akan berarti,”kata Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution dalam Rapat Paripurna Istimewa di DPRD Sumut, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, tema “Satu Kolaborasi, Sejuta Energi” bukan hanya slogan. Dengan 33 daerah otonom dan sekitar 15 juta jiwa, Sumut adalah raksasa yang masih terus belajar menyatukan langkah.
Di satu sisi, capaian pembangunan memang tak bisa diabaikan.
Ekonomi tumbuh 4,53%, kemiskinan turun ke 7,24%, dan IPM melampaui rata-rata nasional. Bahkan, kepuasan publik menyentuh angka 95,62% dan opini WTP dari BPK bertahan 11 tahun berturut-turut.
Namun Bobby memilih tidak berlama-lama di zona nyaman. Ia justru menyoroti persoalan yang masih berulang seperti banjir dan longsor yang terus terjadi di berbagai wilayah. Masalah yang belum sepenuhnya tuntas.
“Ini bukan hanya bencana, tapi peringatan bahwa kita belum maksimal,”ucapnya.
Selain itu, Bobby juga menyoroti satu isu sensitif narkoba, sebagai ancaman nyata bagi masa depan sumber daya manusia Sumut.
“Kita tidak bisa pura-pura tidak tahu. Ini masalah serius dan butuh penanganan serius,”tegasnya.
Bahwa pembangunan bukan hanya soal statistik, tapi juga soal realitas di lapangan.
Ke depan, arah pembangunan Sumut diarahkan pada tiga fokus utama. Memperkuat kualitas manusia, membangun infrastruktur yang lebih tangguh, dan mendorong ekonomi berbasis potensi lokal melalui hilirisasi.
Bobby mengingatkan, semua itu tidak akan berjalan tanpa kolaborasi nyata.
“Pembangunan tidak berdiri di atas satu figur, melainkan kerja kolektif,”tutupnya.
Wakil Ketua DPRD Sumut Sutarto menyampaikan harapan Sumut harus terus bergerak maju dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Di usia ke-78 ini, Sumatera Utara berdiri di persimpangan: antara rasa puas atas capaian, atau keberanian mengakui kekurangan.
Diakhir acara juga diberikan penghargaan kepada berbagai elemen masyarakat, dari pejabat hingga pelajar berprestasi.(red01)









