Don Dasco dan Pusat Gravitasi Kekuasaan di Lingkar Prabowo

Ketua Umum Sekteriat Media Siber Indonesia Pusat, Firdaus.(Foto. Group SMSI)

Oleh: Firdaus

Dugaan miring dan berbagai tudingan kerap menghiasi jejak digital. Namun hingga hari ini, tidak satu pun yang berujung pada vonis hukum.

Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, satu fakta justru sulit dibantah. Sufmi Dasco Ahmad merupakan salah satu figur paling berpengaruh di lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.

Pertanyaan mengenai kemungkinan Dasco menduduki posisi Menteri Dalam Negeri muncul bukan tanpa alasan.

Di balik layar pemerintahan dan koalisi, Dasco bukan hanya Ketua Harian Partai Gerindra atau Wakil Ketua DPR RI.

Ia telah berkembang menjadi salah satu operator politik paling efektif yang dimiliki kubu Prabowo.

Dalam politik Indonesia, kekuasaan tidak selalu berada di tangan mereka yang paling sering tampil di depan kamera.

Sering kali, pengaruh justru berada pada sosok yang mampu menjembatani kepentingan partai, parlemen, pemerintah, dunia usaha, hingga kelompok masyarakat sipil.

Di titik inilah posisi Dasco menjadi menarik untuk dicermati.

Sebagai Ketua Harian Gerindra, Dasco memegang kendali operasional partai yang selama ini menjadi kendaraan politik utama Prabowo.

Ia berada pada simpul strategis yang menghubungkan keputusan elite dengan mesin partai hingga ke tingkat daerah.

Di parlemen, posisinya sebagai Wakil Ketua DPR memberi ruang yang luas untuk membangun komunikasi politik lintas fraksi.

Kemampuannya menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan politik menjadikannya salah satu figur yang relatif diterima di banyak kelompok, termasuk mereka yang sebelumnya berada di luar lingkar Gerindra.

Pengaruh Dasco juga tidak lahir dari ruang kosong. Pengalamannya di Komisi III DPR dan Mahkamah Kehormatan Dewan membentuk jejaring yang luas di sektor hukum dan penegakan aturan.

Sementara latar belakangnya di dunia usaha dan profesi hukum memberinya akses terhadap jaringan yang menopang aktivitas politik modern.

Di luar struktur formal, Dasco dikenal aktif membangun komunikasi dengan kelompok aktivis, organisasi masyarakat, kalangan media, hingga komunitas profesional.

Pendekatan yang cair dan minim konflik terbuka membuatnya sering berperan sebagai jembatan ketika terjadi ketegangan antara pemerintah dan berbagai kelompok kepentingan.

Karena itu, jika muncul spekulasi mengenai posisi yang lebih besar bagi Dasco di pemerintahan, hal tersebut sesungguhnya berangkat dari kalkulasi politik yang rasional.

Ia memiliki modal yang jarang dimiliki politisi lain: kedekatan dengan Presiden, kendali organisasi partai, akses parlemen, jaringan lintas sektor, serta kemampuan menjaga komunikasi dengan berbagai kelompok yang berbeda kepentingan.

Pada akhirnya, ukuran pengaruh politik bukanlah seberapa keras seseorang berbicara, melainkan seberapa besar kemampuannya menggerakkan sistem.

Dalam konteks pemerintahan Prabowo, banyak pihak melihat Dasco sebagai salah satu pusat gravitasi kekuasaan yang bekerja di belakang layar dan tidak selalu terlihat, tetapi jejak pengaruhnya terasa dalam banyak keputusan strategis.

Apakah itu cukup untuk menjadikannya Menteri Dalam Negeri atau bahkan memainkan peran yang lebih besar di masa depan? Waktu yang akan menjawab.

Satu hal yang jelas, dalam konfigurasi kekuasaan hari ini, nama Sufmi Dasco Ahmad bukan lagi hanya pelengkap di lingkar Prabowo, melainkan salah satu aktor utama yang ikut menentukan arah permainan politik nasional.**”.