
Tulisan: Mazlan
Hujan turun seperti biasa di kawasan Danau Toba. Langit malam itu tidak membawa pertanda apa pun. Tetapi air yang jatuh tak lagi menemukan tanah yang sanggup menerimanya. Lereng-lereng bukit di sekitar Parapat telah kehilangan daya serapnya. Hutan menipis, tanah mengeras, dan air memilih jalan tercepat: menghantam permukiman.
Dalam hitungan jam, banjir bandang menerjang Parapat. Sekitar 50 rumah rusak. Kota yang selama ini menjadi gerbang menuju Danau Toba porak-poranda bahkan sebelum fajar datang.
Ini bukan kejadian pertama. Pada 2021, banjir serupa juga melanda. Warga tahu persis penyebabnya: selama lereng di sekitar danau terus kehilangan tutupan hutan, banjir hanya tinggal menunggu hujan berikutnya.
Saya membaca kabar itu dari jauh. Namun rasanya seperti membaca berita tentang seseorang yang sudah lama saya kenal.
Danau Toba bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara, lahir dari letusan purba yang mengubah wajah bumi puluhan ribu tahun silam. Kini ia menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang di tujuh kabupaten yang mengelilinginya.
Sayangnya, danau itu sedang kehilangan kemampuan menjaga dirinya sendiri.
Data Koalisi Lingkungan pada awal 2025 mencatat lebih dari 3.620 hektar hutan dan lahan di kawasan Danau Toba terbakar hanya sejak Januari. Kabupaten Samosir menjadi wilayah yang paling terdampak dengan kehilangan sekitar 1.215 hektar.
Di saat yang sama, kualitas air danau ikut memburuk. Tingkat kekeruhannya mencapai sekitar 200 NTU, delapan kali lipat di atas ambang yang seharusnya tidak melebihi 25 NTU. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia berarti air yang dulu bening kini membawa lumpur, sedimen, dan erosi dari hulu.
Peringatan bahkan datang dari dunia internasional. Pada 2023 dan 2024, UNESCO memberi evaluasi keras terhadap pengelolaan Geopark Global Danau Toba. Pesannya sederhana: kekayaan alam sebesar ini tidak bisa dipelihara dengan cara yang biasa-biasa saja.
Di tengah berbagai kabar buruk itu, saya menemukan sebuah cerita yang nyaris tak pernah menjadi berita utama.
Di Paritohan, Kabupaten Toba, berdiri sebuah taman seluas empat hektar. Ukurannya memang kecil, tetapi isinya menyimpan banyak hal yang perlahan menghilang dari alam.
Di sana tumbuh kemenyan, pohon yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari tradisi Batak. Ada andaliman, rempah yang memberi cita rasa khas pada arsik dan naniura. Ada pula sotul, klambang, teratai, dan berbagai tanaman endemik lain yang hanya hidup di kawasan Danau Toba.
Jika spesies-spesies itu lenyap dari tanah asalnya, tidak ada tempat lain yang dapat menggantikannya.
Taman itu adalah Taman Kehati milik Inalum.
Di dalamnya terdapat kolam konservasi ikan jurung atau Ihan Batak, spesies asli sungai-sungai Danau Toba yang populasinya terus menyusut akibat penangkapan berlebihan. Melalui pembiakan ex-situ, ikan itu dipertahankan agar tidak benar-benar hilang sebelum banyak orang menyadari nilainya.
Terus terang, ketika pertama kali membaca tentang taman seluas empat hektar itu, saya sempat ragu. Rasanya terlalu kecil dibanding persoalan yang dihadapi Danau Toba.
Namun semakin jauh saya membaca, semakin jelas bahwa taman itu bukan tujuan akhirnya. Ia hanyalah satu bagian dari pekerjaan yang jauh lebih panjang.
Hubungan Inalum dengan Danau Toba memang tidak bisa dipisahkan.
Air dari danau menggerakkan turbin PLTA di Paritohan. Energi yang dihasilkan kemudian menjadi tenaga bagi pabrik peleburan aluminium di Kuala Tanjung.
Artinya, ketika daerah tangkapan air rusak, ketika hutan gundul dan aliran air berubah, yang terancam bukan hanya ekosistem. Operasi industri pun ikut bergantung pada kesehatan danau.
Kesadaran itu terlihat dari pendekatan yang mereka pilih.
Sejak 2018, Inalum melakukan rehabilitasi Daerah Tangkapan Air Danau Toba secara bertahap. Areal penghijauan terus bertambah dari tahun ke tahun, menjangkau tujuh kabupaten di sekitar danau.
Hingga 2025, lebih dari 3.298 hektar lahan telah dihijaukan kembali.
Namun bila dibandingkan dengan sekitar 228 ribu hektar lahan kritis di kawasan tangkapan air Danau Toba, pekerjaan tersebut baru permulaan.
Justru karena itulah pendekatan yang digunakan menjadi menarik.
Mereka tidak berhenti pada seremoni penanaman pohon. Ada pemeliharaan, monitoring, evaluasi, hingga penyediaan bibit agar penghijauan dapat berlangsung terus.
Di Desa Pintupohan berdiri Pembibitan Modern Paritohan yang mulai beroperasi penuh pada 2025 dengan kapasitas sekitar 500 ribu bibit setiap tahun.
Di Balige, Dolok Sanggul, dan Purba dibangun Kebun Bibit Rakyat yang masing-masing mampu memproduksi sekitar 50 ribu bibit setiap tahun dan dikelola bersama masyarakat.
Bibit yang dikembangkan pun tidak hanya berupa tanaman kehutanan seperti pinus atau mahoni. Ada pula durian, alpukat, aren, dan kemiri.
Konservasi sering gagal karena masyarakat diminta menjaga sesuatu yang tidak memberi manfaat langsung bagi kehidupan mereka.
Kemiri menawarkan pendekatan berbeda.
Pohon-pohon yang ditanam sejak 2018 mulai berbuah. Satu pohon muda dapat menghasilkan sekitar 25 hingga 30 kilogram kemiri setiap tahun, dan produksinya akan meningkat seiring usia pohon.
Bagi petani, pohon itu bukan sekadar simbol penghijauan. Ia adalah tabungan yang tumbuh pelan di pinggir ladang.
Barangkali di situlah letak pelajaran paling penting.
Konservasi akan bertahan jika masyarakat memiliki alasan untuk ikut menjaganya.
Pohon yang hanya menjadi milik proyek akan berhenti dirawat ketika proyek selesai. Tetapi pohon yang menghasilkan penghasilan akan dijaga jauh lebih lama daripada masa kontraknya.
Pendekatan jangka panjang itu juga terlihat dari investasi pada generasi berikutnya.
Sejak 2023, Inalum menjalankan program Sekolah Peduli Lingkungan di 41 SMP sekitar Danau Toba.
Anak-anak belajar membuat biopori, sumur resapan, mengenal daerah tangkapan air, hingga menanam pohon.
Mungkin hasilnya tidak akan terlihat tahun depan.
Namun kebiasaan yang ditanam pada seorang anak hari ini bisa menjadi keputusan penting ketika ia dewasa kelak.
Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan optimisme yang berlebihan.
Danau Toba sedang menghadapi persoalan yang nyata.
Banjir di Parapat bukan lagi peristiwa yang bisa dianggap kebetulan. Ia adalah gejala dari bentang alam yang kehilangan kemampuan menyerap air. Hutan yang terbakar tidak pulih dalam semalam. Air yang keruh juga tidak akan kembali jernih hanya karena satu musim penghijauan.
Apa yang dilakukan Inalum tentu belum cukup menyelesaikan semuanya.
Tidak ada satu perusahaan, satu pemerintah, atau satu komunitas yang sanggup memulihkan Danau Toba sendirian.
Namun selalu ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu dan tidak melakukan apa-apa.
Di Paritohan, pohon-pohon kemenyan terus tumbuh. Ikan jurung masih dipelihara. Di tujuh kabupaten, ribuan bibit mulai menancapkan akar pada tanah yang pernah gundul. Di puluhan sekolah, anak-anak mulai memahami bahwa air yang mengalir ke rumah mereka selalu berawal dari hutan yang sehat.***









