
MEDAN l Ersyah.com l Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mempercepat perbaikan infrastruktur sumber daya air (SDA) yang rusak akibat bencana di sejumlah daerah.
Hal itu difokuskan untuk menahan sedimen, mencegah banjir susulan, dan mempercepat pemulihan pascabencana.
Pelaksana tugas Kepala Dinas SDA Sumut, Gibson Panjaitan menjelaskan, Pemprov Sumut berkolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera untuk menangani sejumlah titik terdampak.
“Kita berkolaborasi dengan BBWS Sumatera melakukan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana di beberapa lokasi di Sumut,”kata Gibson dalam jumpa pers, Rabu (26/8/2026) di Kantor Gubernur Sumut.
Salah satu fokus penanganan berada di Sungai Aek Sigala-gala, Tapanuli Tengah (Tapteng).
Di bagian hulu, BBWS Sumatera membangun Sabo Dam untuk menahan material sedimen dan menekan risiko banjir susulan. Sementara di hilir, Dinas SDA Sumut memperkuat tebing di sejumlah titik rawan banjir.
“Kontrak sudah diteken dan alat berat sudah di lapangan. Minggu ini sudah beroperasi agar perbaikan infrastruktur yang rusak bisa cepat selesai,”ujarnya.
Sepanjang 2026, Dinas SDA Sumut menyiapkan 16 kegiatan pascabencana. Sembilan kegiatan telah dikontrak, sementara tujuh lainnya masih dalam proses tender. Pekerjaan tersebar di Langkat, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Batubara, dan Mandailing Natal.
Khusus Tapanuli Tengah, sejumlah proyek dibiayai melalui Dana Transfer ke Daerah (TKD), antara lain perkuatan tebing Sungai Aek Panjaitan senilai Rp25 miliar, rehabilitasi saluran irigasi Badiri Lopian Rp1,5 miliar, rehabilitasi saluran irigasi Mombang Boru Rp18 miliar, dan perkuatan tebing Sungai Aek Badiri Rp30 miliar.
Selanjutnya, rehabilitasi tanggul Sungai Aek Sibundong dialokasikan Rp30 miliar, perbaikan tanggul Sungai Aek Pintu Bosi Rp23 miliar, rehabilitasi tanggul Sungai Aek Siaili Tukka Rp20 miliar, serta perkuatan tebing Sungai Aek Sibuluan Rp50 miliar.
Selain pemulihan pascabencana, Pemprov Sumut juga mengejar perluasan lahan pertanian produktif melalui pembangunan jaringan irigasi. Dari total potensi irigasi permukaan dan rawa sekitar 113.000 hektare, saat ini baru sekitar 36.000 hektare yang produktif.
“Tahun ini kami menangani 20 daerah irigasi untuk menambah lahan pertanian produktif seluas 5.050 hektare. Kami harapkan selesai Desember 2026, sehingga tahun depan lahan produktif meningkat dari 36 ribu menjadi 41 ribu hektare,”kata Gibson.









