
BATUBARA l Ersyah.com l Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Kabupaten Batubara, menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai ruang refleksi sekaligus upaya mendorong warga binaan memperbaiki akhlak dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Kegiatan menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian dan kerohanian yang selama ini dijalankan pihak lapas.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah. Suasana religius berlanjut dengan laporan Ketua Panitia mengenai rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan, termasuk sejumlah perlombaan keagamaan yang melibatkan warga binaan.
Sejumlah perlombaan seperti azan, tausyiah, hingga hafalan surat-surat pendek bukan hanya agenda tambahan untuk memeriahkan Maulid.
Kegiatan itu diposisikan sebagai sarana menggali potensi, membangun kepercayaan diri, sekaligus menanamkan nilai keagamaan selama menjalani masa pembinaan.
Pelaksanaan melibatkan warga binaan, jajaran petugas Lapas Labuhan Ruku. serta sejumlah tamu undangan dari berbagai unsur, di antaranya Kejaksaan Negeri Batubara, Kementerian Agama Kabupaten Batubara, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Dr. Hamdi Hasibuan menegaskan, Maulid Nabi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan.
Peringatan tersebut harus memiliki dampak terhadap sikap dan perilaku warga binaan.
“Saya berharap kepada seluruh warga binaan, melalui pelaksanaan kegiatan Maulid ini semakin meningkatkan rasa cinta kita kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan dapat meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari,”ujar Hamdi, Kamis (10/9/2026).
Disebutkan, inti pembinaan di dalam lapas bukan hanya membuat warga binaan menyelesaikan masa pidananya. Lebih jauh, mereka dituntut mampu keluar dari lapas dengan perubahan sikap dan kesiapan untuk kembali hidup sebagai bagian dari masyarakat.
Pembinaan di lapas bukan hanya tentang menghitung hari menuju kebebasan, melainkan tentang memastikan ketika pintu lapas kembali terbuka, ada perubahan yang ikut keluar bersama mereka.
Ia menjadi pengingat bahwa proses memperbaiki manusia membutuhkan lebih dari hanya hukuman, tapi dibutuhkan pembinaan, keteladanan, dan kesempatan untuk berubah.
Lapas Labuhan Ruku menempatkan pembinaan keagamaan sebagai salah satu instrumen untuk membentuk karakter, meningkatkan keimanan, dan mendorong perubahan perilaku warga binaan.
“Semoga bekal spiritual dapat menjadi pijakan agar mereka mampu memperbaiki hubungan dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat setelah masa pidana berakhir,”tutup Hamdi.
Usai sambutan acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada warga binaan yang meraih prestasi dalam lomba keagamaan. Penghargaan diberikan kepada para pemenang lomba azan, tausyiah, dan hafalan surat-surat pendek.
Warga binaan tampil membawakan shalawat, lantunannya menjadi simbol bahwa pembinaan spiritual tetap memiliki ruang di tengah kehidupan warga binaan yang dibatasi tembok dan aturan pemasyarakatan.
Al Ustadz Arif Habibi Batubara dalam tausiyahnya menyampaikan yang bertema “Dengan Shalawat, Kita Tingkatkan Iman dan Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.”
Arif mengajak peserta memperbanyak shalawat, memperkuat keimanan, serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun akhlak.
“Semoga ini tidak berhenti pada ruang pengajian, tetapi dapat diterapkan warga binaan selama menjalani pembinaan hingga saat mereka kembali ke tengah masyarakat,”pesannya.(red01)









