Inalum Diuji di Kalbar, DPR RI Pastikan Smelter Tuntas, Hilirisasi Tak Gagal

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita saat memberikan penjelasan progres proyek Smelter Aluminium Mempawah dan SGAR Fase 2, kepada Komisi VI DPR RI.(Foto. Istimewa)

PONTIANAK l Ersyah.com l Komisi VI DPR RI turun langsung ke Kalimantan Barat untuk pastikan proyek strategis Inalum berjalan tepat waktu dan beri dampak nyata bagi ekonomi nasional.

Penguatan hilirisasi pertambangan nasional itu ditegaskan secara terbuka dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI tersebut yang digelar di Pontianak pada Februari 2026 baru – baru ini.

Kedatangan wakil rakyat itu bagian dari sinyal keras, bahwa pembangunan Smelter Aluminium Mempawah dan SGAR Fase 2 tidak boleh meleset dari target.

Ketua Tim Komisi VI DPR RI, Eko Hendro Purnomo menyebut kedatangan mereka sebagai bagian dari fungsi pengawasan terhadap proyek hilirisasi bauksit terintegrasi yang digarap PT Indonesia Asahan Aluminium. Proyek ini mencakup rantai penuh dari hulu ke hilir, bauksit, alumina, hingga aluminium di Mempawah.

Eko Hendro Purnomo menegaskan kunjungan bukan seremoni. DPR turun langsung untuk membedah hambatan teknis, regulasi, hingga tekanan global yang berpotensi mengganggu proyek.

“Kami mengawal ketat agenda hilirisasi mineral. Proyek di Mempawah harus tepat waktu, tepat sasaran, dan memberi dampak nyata bagi daerah serta nasional,”tegasnya.

Dalam forum tersebut, Inalum memaparkan progres groundbreaking Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Bauksit–Alumina–Aluminium. Sehingga proyek itu diproyeksikan menjadi penopang kemandirian industri aluminium nasional sekaligus menekan ketergantungan impor bahan baku dan produk jadi.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menegaskan optimisme korporasi terhadap masa depan industri aluminium nasional.

“Integrasi pasokan bauksit, pemurnian alumina, hingga pengolahan aluminium akan menjadi mesin penggerak ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan bagi industri aluminium nasional,”ujarnya.

Pengembangan SGAR Fase 2 dan Smelter Aluminium Mempawah untuk menguatkan struktur industri berbasis sumber daya alam. Dengan nilai tambah dari hilirisasi, Kalimantan Barat ditargetkan bertransformasi dari pemasok bahan mentah menjadi pusat industri bernilai tinggi.

“Hilirisasi adalah prioritas nasional, harus dieksekusi, terukur dan berdampak. Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini membuka lapangan kerja, meningkatkan penerimaan negara, dan mengokohkan posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium global,”tutupnya.(red01)