Indonesia Serius Jadi Raja Aluminium, Inalum Bangun Smelter Terpadu Rp104 Triliun

Lokasi pengelolaan dan pemurnian bauksit alumina aluminium di Mempawah Kalimantan Barat.(Foto. Istimewa)

JAKARTA l Ersyah.com l Melalui groundbreaking Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, PT Inalum fokus penuh untuk menguasai industri aluminium nasional.

Dalam pengelolaan hilirisasi tersebut, Inalum  bersama Grup MIND ID resmi memulai megaproyek hilirisasi bernilai Rp104,55 triliun.

Proyek ini bukan sekadar pembangunan smelter, melainkan langkah strategis negara untuk memutus ketergantungan impor aluminium dan mengamankan komoditas industri strategis.

Seluruh pembangunan sejalan dengan UU Nomor 3 Tahun 2020 serta arah kebijakan Asta Cita Presiden Prabowo yang menegaskan hilirisasi mineral sebagai fondasi kemandirian ekonomi nasional.

Direktur Utama inalum, Melati Sarnita menjelaskan, hilirisasi aluminium adalah harga mati bagi masa depan industri nasional. Indonesia, tegasnya, tidak boleh terus menjadi pemasok bahan mentah.

“Hilirisasi bauksit hingga aluminium adalah strategi nasional untuk menguasai rantai nilai industri. Smelter dan refinery dibangun untuk menghentikan impor, memperkuat daya saing, dan memastikan aluminium diproduksi dari sumber daya kita sendiri,” tegas Melati, Kamis (12/2/2026).

Ia menyebut, fasilitas di Mempawah mencakup SGAR Fase 2 dan Smelter Aluminium, berdampingan dengan SGAR Fase 1. Dengan tambahan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun, total produksi alumina domestik melonjak menjadi 2 juta ton per tahun, menyerap 6 juta ton bauksit dari tambang ANTAM di Kalimantan Barat.

Selain itu kata Melati, Smelter Aluminium Mempawah akan memproduksi 600 ribu ton aluminium per tahun yang sepenuhnya dialokasikan untuk kebutuhan industri dalam negeri.

“Jika dikombinasikan dengan Smelter Kuala Tanjung di Batubara, total kapasitas inalum mencapai 900 ribu ton per tahun, menjadikan Indonesia pemain serius di industri aluminium kawasan,”terangnya.

Sebagai proyek strategis nasional, mega proyek ini diproyeksikan memberi dampak ekonomi besar. Bahkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional melonjak Rp71,8 triliun per tahun, penerimaan negara bertambah Rp6,6 triliun, serta 65.000 lapangan kerja tercipta dari hulu hingga hilir.

Pasokan energi untuk smelter kedua dipastikan dari PT Bukit Asam Tbk, memperkuat sinergi BUMN tambang dan energi.

“Komitmen groundbreaking Inalum dan Grup MIND ID tidak lagi menunggu pasar, tetapi mengambil alih kendali industri aluminium nasional. Dengan integrasi penuh dari tambang hingga produk akhir, Indonesia bergerak pasti menuju swasembada aluminium 2030, memperkokoh posisi dalam rantai pasok global,”terangnya.(red01)