Dinkes P2KB Batubara Gelar Konseling PMBA

  • Bagikan
Foto: Kabid Kesmas Abdul Fuad Helmi SKM Mkes didampingi narasumber saat menyampaikan arahan.(ersyah/01)
iklan

BATUBARA.Ersyah.com l Dinas Kesehatan (Dinkes) Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Batubara mengelar pelatihan konseling pemberian makanan bayi dan anak (PMBA), Selasa (5/7/22) di Aula Buffet Mangga Kec. Sei Suka, Kabupaten Batubara, Sumatra Utara.

Kadinkes P2KB Batubara drg Wahid Khusairi MM melalui Kabid Kesmas Abdul Fuad Helmi  SKM Mkes dalam sambutannya sekaligus membuka acara menyampaikan, pembangunan sumber daya manusia menjadi investasi utama untuk mewujudkan bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi.  Tentunya tak terlepas dari berkualitasnya sumber daya manusia (SDM) yang ada. Untuk itu status gizi dan kesehatan termasuk indikator menjadikan SDM unggul di suatu negara, karenanya, pemenuhan gizi itu bagian menciptakan generasi yang sehat di masa depan sangat diperlukan. Permasalahan stunting (gagal tumbuh) menjadi isu utama yang wajib segera dilakukan penanganan dengan pelibatan seluruh sumber daya yang ada, karena penyebab dari stunting tidak hanya rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, tapi sejak janin hingga bayi umur dua tahun.

Bahkan, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting.

“Pemerintah Kabupaten Batubara terus berupaya penanganan stunting dalam rangka mendukung program nasional untuk mewujudkan SDM unggul dan berkualitas.

Salah satunya melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif mengacu peraturan presiden nomor 72 tahun 2022 tentang percepatan penurunan stunting,”ujar Abdul Fuad Helmi.

Menurutnya, intervensi  spesifik (penyebab langsung) yang berkaitan pada penanganan aspek bidang kesehatan hanya berpengaruh 30 persen saja dalam percepatan penurunan stunting, namun dengan intervensi sensitif (tidak langsung) di luar bidang kesehatan akan memberikan dampak percepatan penurunan stunting sebesar 70 persen, seperti perbaikan lingkungan dan permukiman, penanganan sanitasi dan akses air bersih, serta bantuan tunai sosial.

Berdasarkan peraturan presiden jelas, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang badan/tinggi badan berada dibawah standart yang ditetapkan menteri urusan  bidang kesehatan.

“Ini faktor penyebab stunting karena, kurangnya asupan gizi, pola asuh yang tidak tepat, pelayanan kesehatan yang tidak optimal, serta kondisi air minum dan sanitasi lingkungan sekitarnya yang tidak sehat,”ungkap Abdul Fuad.

Ia juga menggambarkan prevalensi balita stunting berdasarkan SSGI tahun 2021, Kabupaten Batubara mencapai 30,9 % dengan target nasional 21,1 %, prevalensi balita wasting (balita sangat kurus dan kurus) mencapai 10,3% dengan target nasional 7,8% dan prevalensi balita underweight (balita gizi kurang) mencapai 16,5% dengan target nasional 15%. Sementara prevalensi stunting kabupaten batu bara mencapai 18,35% (entry data balita 93,20%) berdasarkan data EPPGBM pada pengukuran ulang yang dilaksanakan bulan Maret tahun 2022.

Untuk mencegah terjadinya penurunan status gizi bayi dan anak 6 – 24 bulan yang menderita gizi kurang menjadi gizi buruk dan yang utama dalam pencegahan stunting, sekaligus untuk mempertahankan status gizi bayi dan anak 6- 24 bulan, terutama dari keluarga miskin. Upaya peningkatan status gizi tidak hanya cukup dengan meningkatkan perluasan jangkauan pelayanan saja, tetapi perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat khususnya para kader sebagai ujung tombak pelayanan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para kader dalam membantu penanggulangan gizi melalui pelatihan konseling pemberian makan bayi dan anak (PMBA), agar mampu mengatasi secara mandiri dalam menangani masalahnya.

“Untuk memberdayakan ibu, keluarga dan masyarakat dalam praktek PMBA diperlukan seseorang, baik kader maupun motivator yang berasal dari masyarakat untuk dapat membantu ibu, keluarga dalam menerapkan PMBA yang optimal,”terang Abdul Fuad.

Informasi dihimpun, kegiatan dilaksanakan selama 4 hari, Selasa – Jumat tanggal 5 – 8 Juli 2022, di Buffet Mangga, Simpang Kopi, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara.

Peserta berjumlah 55 orang terdiri dari, yang memberikan pelayanan kesehatan fasilitas atau puskesmas, Tenaga Pelaksana Gizi (TPG)/ nutrisionis, Bidan koordinator yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Pelayanan kesehatan fasilitas kesehatan rujukan atau Rumah Sakit, Bunda Paud Kecamatan dan Kader PKK di 12 Kecamatan wilayah Kabupaten Batubara.

Sementara Narasumber/ Fasilitator, 2 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara,

1 orang Fasilitator Poltekkes/Organisasi Profesi DPD. PERSAGI Provsu, 1 orang Fasilitator dari UISU, 1 orang Fasilitator dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Batubara.

Kriteria fasilitator, telah mengikuti pelatihan pelatih PMBA baik yang dilaksanakan  Kementerian Kesehatan, Direktorat Gizi masyarakat maupun Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara dan dibuktikan dengan adanya sertifikat serta memiliki komitmen yang tinggi dalam memfasilitasi pelatihan PMBA.(red01)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.